Determinan Sosial dan Literasi Kesehatan Terhadap Kepatuhan Minum Obat Penderita TB Paru
Abstract
Latar Belakang: Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita Tuberkulosis (TB) tertinggi kedua di dunia. Meskipun obat anti-tuberkulosis (OAT) telah dijamin ketersediaannya oleh pemerintah, tingkat kepatuhan pasien dalam menjalani pengobatan masih rendah dan belum menunjukan dampak signifikan terhadap keberhasilan terapi. Ketidakpatuhan tersebut berkaitan dengan kurangnya pengetahuan pasien mengenai penyakit, terbatasanya pendidikan kesehatan yang diterima, status pekerjaan, serta rendahnya tingkat literasi kesehatan. Jumlah populasi penderita TB Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Tatelu Kabupaten Minahasa Utara yakni sebanyak 55 pasien. Besar sampel menggunakan total populasi yakni 55 pasien.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa hubungan antara determinan sosial dan literasi kesehatan terhadap kepatuhan minum obat pada penderita TB Paru . Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan menggunakan instrumen Health Scale European Union (HLS-EU) dan Morisky Medication Adherence Scale-8 (MMAS-8) untuk kemudian dilakukan uji statistik chi square. Hasil: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara determinan sosial dengan kepatuhan pengobatan TB Paru diantaranya didapatkan nilai p-value 0.130 untuk jenis kelamin, p-value 0.188 untuk pendidikan, p-value 0.101 untuk pendapatan, dan p-value 0.308 untuk status pekerjaan. Pada hubungan literasi kesehatan juga mendapatkan hasil yang sama berdasarkan uji statistic dengan nilai p-value 0.135. Kesimpulan: Determinan sosial tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kepatuhan pengobatan pada semua aspek yaitu jenis kelamin, pendidikan, pendapatan, dan status pekerjaan. Begitu pula dengan literasi kesehatan tidak ada hubungan yang signifikan dengan kepatuhan pengobatan TB Paru